Papua Voice

Damai Dari Kita Untuk Kita

Ilmu Pengetahuan dan Hati Nurani

20 September 2008, 03:15 pm | No Comments

K Bertens

astrawan Prancis, Rabelais (1494-1553), pernah menulis Science sans conscience ruine lâme(ilmu pengetahuan tanpa hati nurani menghancurkan jiwa). Jiwa di sini harus dimengerti sebagai inti kepribadian manusia atau integritas moral.

Sama seperti bahasa Inggris, bahasa Prancis pun dalam hal ini bisa main dengan kata science(ilmu pengetahuan) dan conscience(hati nurani), karena dua kata itu dekat satu sama lain dan dalam asal-usulnya pasti mempunyai akar yang sama.

Dalam bahasa Inggris dapat ditanyakan, umpamanya, has science a conscience? Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (seperti dalam judul di atas), kemiripan itu hilang sama sekali. Namun, bagi kita pun hubungan antara ilmu pengetahuan dan hati nurani menjadi suatu tantangan untuk dipikirkan konsekuensinya.

Rabelais, yang selain sastrawan adalah dokter, hidup pada awal pertama perkembangan ilmu pengetahuan modern. Dia kawan sezaman tokoh, seperti, Nicolaus Copernicus dan Leonardo da Vinci. Pada saat itu, ilmu pengetahuan sebetulnya belum menimbulkan banyak masalah bagi etika. Pada awal perkembangan ilmu pengetahuan modern masih sering dipikirkan bahwa penelitian ilmiah itu bebas nilai atau netral terhadap penilaian moral. Lama-kelamaan, kesadaran tumbuh bahwa sikap netral itu tidak bisa dipertahankan. Ilmu pengetahuan juga harus mendengarkan hati nurani (tentu saja, melalui para ilmuwannya). Ilmu pengetahuan ternyata tidak bebas nilai, tapi berurusan dengan yang baik dan yang buruk.

Fisika Nuklir

Dalam sejarah selanjutnya, pertemuan antara ilmu pengetahuan dan hati nurani belum pernah berlangsung begitu dramatis dan pedih, seperti pada saat fisika nuklir untuk pertama kali menghadapi kemungkinan mengembangkan bom atom. Selama Perang Dunia II, Amerika Serikat memperoleh informasi bahwa Jerman Nazi sedang mempelajari kemungkinan merancang sebuah senjata nuklir. Sebagai reaksi, AS bersama Inggris langsung membentuk tim ahli fisika nuklir yang diberi nama the Manhattan Project. Tujuannya, secepatnya mengembangkan bom atom agar dapat mengimbangi kekuatan militer Jerman, yang sedang berkembang dengan cara mengkhawatirkan. Pikirannya adalah jika AS nanti mempunyai senjata nuklir yang sama, kondisi itu akan berperanan sebagai deterrence, sebagai sarana untuk menakutkan si musuh, karena jika mereka sampai nekat memakai senjata dahsyat mereka sendiri, kemudian akan kena juga.

Namun, beberapa waktu kemudian, pemerintah Hitler memutuskan menghentikan usaha pengembangan bom atom, karena para ahli fisika nuklir berpendapat, usaha itu akan memakan waktu terlalu lama, sehingga bom atom pasti tidak berguna lagi untuk memenangkan Perang Dunia II.

Sampai sekarang, belum jelas, apakah para fisikawan memberikan nasihat itu dengan ikhlas atau mereka bilang begitu untuk mengelabui pemerintah Hitler, karena mereka menyadari betul konsekuensi dahsyat persenjataan semacam itu. Yang pasti ialah bahwa AS sampai mengetahui Jerman Nazi sudah menghentikan proyek nuklir, tetapi mereka sendiri tetap melanjutkan the Manhattan Project. Hanya, seperti kita ketahui, akhirnya mereka memakai senjata mengerikan itu melawan Jepang, bukan melawan Jerman. Kita mendapat kesan bahwa proyek nuklir Amerika itu dilanjutkan dengan cukup fanatik.

Tentang Jenderal Groves, yang menjadi pimpinan militer proyek, diceritakan bahwa dia seolah-olah khawatir perang akan selesai sebelum bom atom mencapai tahap siap pakai. Sudah dikeluarkan dua miliar dolar untuk proyek ini dan DPR Amerika ingin melihat hasilnya. Setelah jelas bahwa Jerman Nazi sudah menghentikan usahanya, hanya satu orang yang mengundurkan diri dari proyek nuklir Amerika itu, yakni Joseph Rotblat, warga negara Inggris yang berasal dari Polandia. Alasannya, karena hati nurani. Antara lain, ia terkejut dengan ucapan Robert Oppenheimer, pimpinan ilmiah proyek, bahwa mereka sudah mempunyai cukup bahan nuklir strontium-90 untuk membunuh setengah juta orang. Ucapan ini dinilai Rotblat sebagai barbar. Rotblat langsung keluar dari the Manhattan Project dan pulang ke Inggris. Tetapi, dengan diancam hukuman penjara, ia dilarang menyampaikan alasan pengunduran diri itu kepada rekan-rekannya, apalagi kepada media massa. Dalam keputusannya, Rotblat tinggal seorang diri.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa mereka membatasi diri pada segi ilmiah saja. Apakah hasil penelitian mereka, bom nuklir, akan dipakai juga bergantung pada keputusan politisi. Seperti pernah dikatakan Oppenheimer: It is not the scientists responsibility to determine whether a hydrogen bomb should be used. That responsibility rests with the American people and their chosen representatives.

Sesudah Perang Dunia II, Joseph Rotblat menjadi salah seorang pendiri Pugwash Conference on Science and World Affairs(1954), bersama, antara lain, Albert Einstein dan Bertrand Russell. Filsuf Inggris yang disebut terakhir ini menjadi ketua pertama dan Joseph Rotblat menjadi sekretaris umum.

Mulai 1957, mereka menyelenggarakan serangkaian konferensi antarilmuwan (termasuk dari Uni Soviet) untuk membicarakan masalah persenjataan nuklir dan keamanan dunia. Melalui kegiatan ini, mereka sangat mempengaruhi berlangsungnya perundingan antara AS dan Uni Soviet yang akhirnya menghasilkan beberapa perjanjian tentang pembatasan senjata nuklir.

Pada 1995, kepada Joseph Rotblat dan Pugwash Conferencedianugerahi Hadiah Nobel untuk perdamaian. Dengan demikian, Rotblat akhirnya diakui secara resmi sebagai ilmuwan yang menjadi pahlawan moral karena hati nurani.

Walaupun sastrawan Rabelais adalah juga dokter, namun belum tentu dalam ucapannya ia menyinggung hubungan antara ilmu pengetahuan dan hati nurani, terutama bidang kedokteran. Namun, di zaman kita sekarang, konflik antara ilmu pengetahuan dan hati nurani, terutama berlangsung dalam konteks penelitian biomedis, khususnya penelitian tentang sel induk embrionik (embrionic stem cells).

Menurut para ahli, penelitian ini sangat menjanjikan, karena diharapkan dapat menghasilkan terapi baru untuk mengobati penyakit yang sampai sekarang tidak bisa disembuhkan. Kesulitannya, dalam penelitian itu, embrio manusia dibunuh dan karena itu kita menghadapi masalah etis yang besar. Tidak dapat dihindarkan timbulnya reaksi pro dan kontra.

Pihak yang pro menekankan manfaat besar bagi umat manusia, yang dapat membenarkan penelitian tersebut. Apalagi, mereka katakan, status moral embrio muda yang baru beberapa hari umurnya, belum jelas. Pihak yang kontra menegaskan bahwa kehidupan manusia harus dihormati. Tidak pernah boleh kita korbankan kehidupan manusia yang satu kepada kehidupan manusia lain. Dengan kata lain, kehidupan manusia tidak boleh diinstrumentalisasi. Apalagi, mereka tekankan, alternatif yang masih ada harus dicoba dulu, seperti penelitian dengan sel induk dewasa (bukan dari embrio), penelitian dengan sel induk embrionik hewan, dan lain-lain.

Yang menarik, konflik antara penelitian biomedis dan hati nurani tidak begitu tampak pada kalangan peneliti, melainkan pada kalangan politisi yang harus mengambil keputusan tentang pendanaan untuk penelitian. Pada Juni 2006, parlemen Eropa menyetujui anggaran untuk penelitian ini selama periode 2007-2013, meskipun melalui perdebatan sengit dan dengan mayoritas suara agak tipis.

Satu bulan setelah itu, Presiden George W Bush memveto rancangan undang-undang yang akan menyediakan anggaran untuk penelitian ini di AS. Keputusan ini menunjukkan keberanian moral Presiden Bush, karena ia mengutamakan hati nurani di atas posisi unggul AS di dunia ilmiah (dan bisnis). Sebenarnya, mengherankan bahwa suara profesi kedokteran kurang terdengar dalam diskusi ini. Sebab, dalam Sumpah Dokter resmi yang ditetapkan oleh Asosiasi Kedokteran Dunia sudah lama dikatakan: I will maintain the utmost respect for human life from its beginning(Aku akan mempertahankan rasa hormat setinggi-tingginya untuk kehidupan manusia sejak permulaannya).

Penulis adalah anggota staf Pusat Pengembangan Etika Unika Atma Jaya, Jakarta

September 30, 2008 Posted by | Artikel | | Tinggalkan komentar

Perkakas ‹ Papua Voice — WordPress

Maret 30, 2009 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Walikota: Tidak Mungkin Ada Pasar di Pusat Kota

30 September 2008 03:28:48

JAYAPURA-Kemauan mama-mama pedagang asli Papua yang menginginkan adanya pasar khusus bagi mereka di Pusat Kota, nampaknya juga menjadi perhatian serius dari Walikota Jayapura Drs MR Kambu, MSi. Hanya saja, menurut Walikota Kambu, untuk memenuhi keinginan warga, khususnya mama-mama pedagang untuk tetap bisa berjualan di pasar tradisional yang tempatnya permanen di pusat kota, jelas tidak mungkin.
Walikota membenarkan bahwa beberapa waktu lalu memang pernah bertemu dengan mama-mama pedagang, khususnya di depan Gelael Jayapura. Di mana dalam pertemuan tersebut, muncul usulan-usulan dari dari para mama-mama pedagang ini, yang meminta adanya pasar khusus bagi mereka di pusat kota. “Itu usulan dari mereka, jangan diputar bahwa seolah-olah walikota yang menjanjikan untuk membangun pasar seperti keinginan mereka,”ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Senin (29/9).
Menurut Kambu, sebagaimana penjelasan yang disampaikan kepada mama-mama saat itu, memang ada kesulitan yang dihadapi pemerintah kota dalam mempersiapkan pasar di pusat kota. Selain tidak adanya lahan aset pemerintah kota di pusat Kota Jayapura, dalam Rencana Tata Ruang Kota Jayapura maupun tata ruang kota di mana saja di Indonesia ini , tidak ada yang namanya pasar tradisional di pusat kota.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tempat berjualan bagi mama-mama pedagang di Galael ini, Pemerintah Kota Jayapura saat ini sedang menyelesaikan pembangunan Pasar di Dox IX dan Pasar Hamadi. Dimana dari bangunan pasar tersebut, ada kios yang dicadangkan atau disediakan bagi mama-mama Papua. “Saya harapkan mereka bisa berjualan di sana,”ujarnya.
Disamping bangunan pasar besar yang ada, Pemkot juga memfasilitasi adanya pasar-pasar peyangga di pinggiran kota, bukan di pusat kota, sehingga bisa berjualan dari pagi, siang atau bahkan sampai malam. Oleh karena itu, dengan fasilitas yang disediakan pemerintah ini, diharapkan bisa dimanfaatkan dengan baik. Jangan memaksakan keinginan atau kemauan yang melanggar aturan dan menganggu ketertiban umum.
“Masyarakat Kota Jayapura ini sangat heterogen, dan mendapat perhatian yang sama. Tidak mungkin memperhatikan kepentingan kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan umum atau masyarakat lainnya,”tegasnya. (tri)

September 30, 2008 Posted by | Berita | | Tinggalkan komentar

<

WASHINGTON – Barack Obama and John McCain clashed over foreign policy and how they planned to solve the U.S. economic crisis in a critical presidential debate held amid a Wall Street financial meltdown some fear could herald another Great Depression.

The first 40 minutes of the showdown focused solely on the economy, with Obama quick to point out that Wall Street’s financial meltdown started under President George W. Bush and was promoted by McCain.

Obama noted both men were opposed to regulating the financial industry despite his own warnings to Congress that a day of reckoning loomed.

“Yes, we’ve got to solve this problem in the short term and we are going to have to intervene but we have to look at how we shredded so many regulations,” he said.

McCain suggested government overspending has contributed to the crisis, accusing Obama of being in favour of raising taxes and voting for millions of dollars of spending.

The Arizona senator even suggested he would consider a spending freeze if elected president, saying money might be limited to areas like the military and veteran affairs.

Obama seemed incredulous at McCain’s apparent theme of that segment of the debate – that government overspending had played a role in the current crisis, and was something he intended to put a stop to.

“John, it’s been your president over the last eight years who presided over this increase in spending, this orgy of spending … and you voted for almost all of his budgets,” Obama said.

Both men, when pushed by moderator Jim Lehrer, said they would support the bailout with certain conditions in place that would protect taxpayers.

The debate Friday was easily one of the most highly anticipated verbal faceoffs in recent memory, but there was no “gotcha” moment, no knockout punch and therefore no clear winner.

Some pundits suggested that Obama merely needed to hold his own while McCain needed a heroic performance to make an impact on his standing in the polls. Obama has a modest lead over McCain in the face of the economic crisis.

McCain had vowed not to attend the debate unless a deal was reached between Congress and the federal government over the proposed US$700 billion bailout of the country’s failing banks and financial institutions.

But in a surprise change of tack Friday morning, McCain’s campaign said he would, in fact, show up even though a deal had yet to be reached among legislators in Washington.

Even though Friday’s debate was originally supposed to focus on national security and foreign policy, the economy was a major discussion point given it was preoccupying not just politicians in Washington but Americans from every walk of life.

The men also clashed at length, however, over the war in Iraq, with Obama saying had focused on the wrong target and should instead send more troops to Afghanistan, “the central front of terrorism.”

“You were wrong,” Obama said forcefully to McCain about his support of the war in Iraq.

But McCain, a former U.S. Navy pilot and war hero, said the invasion had brought democracy and order to Iraq, frequently accusing his younger rival of not understanding military issues.

“We will prevail in Afghanistan,” McCain said. “But if we suffer defeat in Iraq … that will have a calamitous effect on Afghanistan.”

On the issue of Iran acquiring nuclear weapons, McCain said he’s proposed a “league of democracies” to impose “painful” sanctions on the Iranians that would have a beneficial effect.

Obama said the war in Iraq was partly responsible for Iran’s emerging powers since it effectively eliminated the country’s biggest enemy.

“The single thing that has strengthened Iran has been the war in Iraq … and what we’ve seen in the last couple of years is Iran’s influence grow,” he said. “So obviously our policy over the last eight years has not worked.”

He proposed tough diplomacy with Iran.

“We should talk directly with Iran – I’ll talk to anyone if it keeps America safe,” Obama said, looking irritated when McCain scoffed at him for suggesting he’d talk to hostile foreign leaders with no pre-conditions.

The atmosphere, in fact, was tense during the debate, not surprising given their tight race for the White House.

Obama appeared visibly agitated at times and McCain seemed condescending as he frequently smirked during his rival’s remarks. Both frequently interrupted one another.

Their showdown came just two days after McCain’s extraordinary announcement that he was suspending campaigning to head to Washington to deal with the crisis was viewed as daring political manoeuvring that backfired.

Obama refused to bow to McCain’s insistence that the debate needed to be postponed, saying he was heading to Mississippi and would hold the event on his own if necessary.

September 27, 2008 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Lagi, Bintang Kejora Berkibar

PDF Print E-mail
Ditulis Oleh: Husyen/Papua Pos
Rabu, 24 September 2008

http://www.papuapos.com

TERTANGKAP : Salah satu otak atau pelaku pengibaran bendera bintang kejora ketika ditangkap di lokasi pengibaran.Tampak aparat menggiring pelaku ke Mapolsek mimika baru yang seterusnya akan dibawa ke Mapolsek.

TIMIKA (PAPOS) –Lagi, Bendera Bintang Kejora Selasa (23/9) dini hari sekitar pukul 03.15 WIT kemarin berkibar di Kelurahan Kwamki Baru setelah sepekan lalu Rabu (17/9) berkibar di Kampung Tengah Kwamki Lama.

Jika di Kwamki Lama Polisi hanya menemukan tiang yang dipakai mengibarkan bendera saja, tidak berhasil menyita bendera, dan tidak berhasil pula mengamankan pelakunya.

Namun lain di Kwamki Baru, bendera yang berkibar itu jaraknya hanya sekitar 100 meter dari Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Mimika Baru Jalan Cemara di Timika, Polisi sukses menyita bendera serta sejumlah alat bukti lain termasuk 18 orang diamankan.

Wartawan Papua Pos dari Timika tadi malam melaporkan, pengibaran bendera Bintang Kejora itu dilakukan oleh tiga orang warga dan disaksikan puluhan warga lainnya. Para pelaku serta barang bukti berupa bendera bintang kejora, senjata tajam dan senjata rakitan yang dibawa warga masyarakat sudah diamankan polisi setempat.

Bendera Bintang Kejora diikat pada sebatang kayu lalu dikibarkan. Puluhan warga berada di tempat itu, namun 18 orang sempat diamankan polisi. Bendera itu dikibarkan selama sekitar 15 menit dan pada pukul 03.30 WIT diamankan polisi.

Adapun barang bukti yang diamankan polisi berupa puluhan busur dan anak panah, senjata rakitan, tiga pucuk senapan angin dan bendera Bintang Kejora. Para pelaku pengibaran bendera yang diamankan polisi di Markas Polres Mimika sebanyak 18 orang antara lain, Arnol Toto, Ike Lamordean, Agustinung Timang, Agus Aim, Albertus Alomang, Benny Yanem, Alpinus Kalaneyane, Apiator Onawame.

Dari pantauan, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di kota Timika pasca insiden pengibaran bendera ini aman dan terkendali. Masyarakat beraktivitas seperti biasa, sementara angkutan umum dalam kota beroperasi sebagaimana biasanya.

Bahkan insiden pengibaran bendera ini tidak mengganggu saudara-saudara umat Muslim setempat yang dini hari itu sedang makan sahur dan melaksanakan Shalat Subuh di Masjid dan Mushola.

Hingga berita ini naik cetak, para pelaku pengibaran bendera yang diamankan polisi sedang dimintai keterangan di MaPolres Mimika. Sementara itu, Kapolres Mimika AKBP Godhelp C Mansnembra di ruang kerjanya Selasa (23/9) siang menegaskan, dari hasil pemeriksaan tim penyidik kesimpulan sementara motif pengibaran bendera Bintang Kejora adalah keinginan sekelompok orang yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

“Setelah ditanya oleh tim pemeriksa mereka menuturkan bahwa tujuannya adalah ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami aparat sudah mendengar adanya sekelompok orang Papua yang tak puas sehingga timbul hasrat atau keinginan untuk merdeka,”jelas Kapolres.

Terkait pengibaran Bintang Kejora ini diminta jangan mengkambinghitamkan kelompok manapun. Menurut Kapolres, baru dua warga yang diduga kuat sebagai otak dari pengibaran bendera, sementara 16 warga lainnya masing dimintai keterangan.

“Kemungkinan ada warga yang nantinya dipulangkan karena tidak terkait dengan kegiatan pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut,” ungkap Mansnembra.(husyen)

Add as favourites (0) | Quote this article on your site | Views: 41

Komentar (5)

1. 24-09-2008 06:37, 06:37
Konspirasi Apalagi
Aksi pengibaran bendera Bintang Kejora di Timika perlu diselidiki lebih mendalam lagi agar ketahuan siapa aktor intelektual dibalik aksi tersebut. Polisi tidak boleh serta merta mengklaim bahwa warga yang ditahan itu pelaku utamanya. Di Papua, khususnya Timika, masyarakat lokal sangat rawan untuk dihasut oleh oknum-oknum yang berkepentingan untuk mengacaukan situasi. Siapa oknum tersebut, tentu aparat kepolisian sudah mengetahuinya namun ‘takut’ menangkapnya. Mereka ini selalu menjadikan rakyat sipil sebagai perpanjangan tangan. Bisa dimengerti dalam kondisi ekonomi yang susah seperti ini, selembar uang Rp 50 ribu saja kita bisa membayar orang untuk melakukan aksi apa saja, yang penting target kita tercapai. Nah, itulah yang dialami masyarakat kita di Timika. Intinya adalah, tugas aparat keamanan yaitu mengamankan negeri ini, bukan sebaliknya membuat proyek-proyek yang bisa menghasilkan uang dengan mengorbankan rakyat sipil.
IP: 124.81.12.104
Guest
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy32744 = ‘thobias’ + ‘@’;
addy32744 = addy32744 + ‘lpmak’ + ‘.’ + ‘orgNOSPAM! ‘;
var addy_text32744 = ‘jericho’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy32744 + ‘\’>’ );
document.write( addy_text32744 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n jericho
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

2. 24-09-2008 07:58, 07:58
kenapa dan ada apa?
Saya setuju dengan komentar dari jericho, yang saaya ingin tambahkan kenapa dan ada apa hingga masyarakat dapat melakukan hal seperti itu, kita tidak bisa langsung menyalahkan mereka “ada sebab ada akibat, ada asap karna ada api” itu yang terjadi karna kurangnya perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan dari mereka “adanya ketidak puasan”. Jadi kalau kita tanya mereka “kenapa mereka mau melakukan itu?” sudah bukan rahasia lagi pasti masalah sosial. Jadi Pemerintah juga harus tau diri dan polisi harus juga menangkap dan memeriksa Aparat Muspida yang mana merupakan sumber akar permasalahan ini. Jangan lupa mengenai hak ulayat mereka yang besar yang tidak dibagi secara adil kepada mereka. Terima kasih!!
IP: 202.123.234.177
Guest
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy88017 = ‘yakoptoles’ + ‘@’;
addy88017 = addy88017 + ‘yahoo’ + ‘.’ + ‘co’ + ‘.’ + ‘idNOSPAM! ‘;
var addy_text88017 = ‘toles’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy88017 + ‘\’>’ );
document.write( addy_text88017 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n toles
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

3. 24-09-2008 09:00, 09:00
kenapa dan ada apa?
ADOO…
KAM KALO MAU KASIH NAIK BENDERA HARUS MEMPERHITUNG KAN BAIK-BAIK, KAN AKHIR2 INI TIMIKA LAGI JADI TARGET PENJAGAAN KETAT KARNA KASUS MORTIR TOO.

BIASANYA ITU POLISI/TNI TIDAK ADA UANG JADI DONG CARI UANG DENGAN USUT MASYARAKAT SUPAYA PEMERINTAH BAYAR TRUS FREEPORT BAYAR LAGI JADI DONG SENANG KALO BIKIN KAYA BEGINI-BEGINI. ITU DONG PU HIDUP KO, KALO TIDAK KAYA BEGINI DONG MAKANAN DARI GAJI KA, GAJI BERAPA? TRA CUKUP KSH HIDUP ISTRI DAN ANAK.
MASYARAKAT HARUS JELI LIAT HAL-HAL SEPERTI INI, NANTI KITA YANG DI RUGIKAN…MANA LEMASKO, LEMASA, LPMAK DLL. BANTU MASYARAKAT DLM HAL INI.

IP: 125.163.226.219
Guest
mK

4. 24-09-2008 10:15, 10:15
kenapa dan ada apa?
masyarakat dong tau bikin senjata dri mana ??

polisi kapa yg bikin baru kasih mereka pasti…

semua sudah tahu ttg kelakuan POLISI/TNI di sekitar areal PT FREEPORT spt apa…

mereka hidup karena ada kegiatan spt ini,,..

dong bilang hore… kita pu uang tuk THR kali ini mungkin semakin banyak… karena ada kasus spt ini..

teruss saja aparat keamanan buat isu trus masyarakat ditangkap.

undefinedmasyarakat dong tau bikin senjata dri mana ?? polisi kapa yg bikin baru kasih mereka pasti… semua sudah tahu ttg kelakuan POLISI/TNI di sekitar areal PT FREEPORT spt apa… mereka hidup karena ada kegiatan spt ini,,.. dong bilang hore… kita pu uang tuk THR kali ini mungkin semakin banyak… karena ada kasus spt ini.. teruss saja aparat keamanan buat isu trus masyarakat ditangkap. [B]undefined[/B]

IP: 202.91.10.230
Guest
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy59313 = ‘antiduwa’ + ‘@’;
addy59313 = addy59313 + ‘gmail’ + ‘.’ + ‘comNOSPAM! ‘;
var addy_text59313 = ‘erick yoku’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy59313 + ‘\’>’ );
document.write( addy_text59313 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n erick yoku
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

5. 24-09-2008 15:09, 15:09
Ada yang TBO
Dari belasan warga sipil yang ditangkap karena mengibarkan Bintang Kejora, ada yang jelas-jelas dijadikan TBO alias Tenaga Bantuan Operasi oleh suanggi-suanggi. Ada konspirasi apa dibalik semua itu??????
IP: 124.81.12.104
Guest
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy32744 = ‘thobias’ + ‘@’;
addy32744 = addy32744 + ‘lpmak’ + ‘.’ + ‘orgNOSPAM! ‘;
var addy_text32744 = ‘jericho’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy32744 + ‘\’>’ );
document.write( addy_text32744 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n jericho

September 24, 2008 Posted by | Berita | | Tinggalkan komentar

Kawasan Operasional PT Freeport Diduga Dicemari Limbah Pembuangan Penambangan

PDF Print E-mail
Ditulis Oleh: Ant/Papos
Selasa, 23 September 2008

http://papuapos.com

LIMBAH : Sungai di kawasan opersional PT Freeport dicurigai masyarakat telah dicemari limbah pembuangan penambangan. Nampak sungai yang mengalir di kawasan areal PT Freeport

Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) berencana melakukan pemantauan di wilayah operasional PT Freeport Indonesia (PTFI), karena masyarakat menduga kawasan operasional PTFI di Kabupaten Mimika telah dicemari limbah pembuangan penambangan tembaga, emas, perak dan material ikutan lainnya.

SALAH seorang Tokoh Masyarakat (Tomas) Kokonao, Stevanus Joukar, melaporkan dugaan masyarakat atas pencemaran lingkungan itu ke DPRP sehingga DPRP perlu melakukan peninjauan.

Hal itu disampaikan anggota Panitia Khsusus (Pansus) PTFI DPRP Papua, Abdul Hakim Ahmad Aituarauw di Jayapura, Senin (22/9). Apabila laporan dugaan masyarakat ini benar maka kawasan hutan, fauna, flora dan sungai di wilayah itu dapat segera diselamatkan.

Oleh sebab itu DPRP perlu melihat dari dekat apakah benar adanya perubahan warna air sungai yang dulunya biru dan kini keputih-putihan akibat dari pencemaran limbah PTFI.

Beberapa aliran sungai di wilayah itu merupakan tempat pembuangan sisa pengolahan pabrik dan pemecahan material tambang emas, perak, tembaga dan material ikutan lainnya di kawasan Earsberg, Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Kali Otomona itu terbagi dua, satunya ke kawasan Selatan yang bermuara dengan Sungai Aijkwa dan Kali Kopi yang kini menjadi lapangan tailing (batuan sisa tambang).

Pada wilayah ini, pihak PTFI telah melakukan penanaman tanaman keras dengan nilai ekonomi tinggi, seperti sagu, mangga, durian dan aneka tanaman keras lainnya.

Menurut Stevanus, masyarakat kuatir apabila pencemaran akan merugikan kehidupan mereka dan generasi yang akan datang. Selain DPRP, diharapkan juga ada Tim khusus untuk melakukan penelitian secara mendalam agar hasil kajian tim dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat dipahami masyarakat setempat.

“Saya segera menyampaikan laporan tokoh masyarakat ini kepada Ketua Pansus PTFI DPRP Papua, Yan L.Ayomi, S.Sos agar dalam waktu dekat dilakukan pemantaun langsung di wilayah tambang PTFI,” ujar Hakim Ahmad.

Dia mengemukakan, apabila ditemukan kebenaran terjadinya perubahan lingkungan alam akibat pencemaran limbah tailing maka Pansus PTFI DPRP merekomendasikan persoalan itu kepada pemerintah untuk dapat menyelesaikan sesuai peraturan yang berlaku.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Mimika Anastasia Tekege mendukung rencana DPRP untuk meninjau areal operasional PTFI yang diduga terjadi pencemaran itu.

Menurutnya, PTFI pun selalu terbuka untuk dikoreksi oleh masyarakat demi kebaikan hidup semua warga masyarakat.

Manajemen PTFI sendiri telah menyebarluaskan kebijakan pembangunan berkelanjutan di areal operasional perusahaan itu di bawah tema “Unsur-Unsur Pembangunan Berkelanjutan”.

“Dalam kebijakan lingkungan yang kami anut, kami memiliki komitmen agar perusahaan kami melakukan audit internal dan eksternal terhadap lingkungan secara berkala guna mengevaluasi kepatuhan, sistem pengelolaan dan praktek-praktek kami terhadap lingkungan,” tulis manajemen PTFI yang dinahkodai Armando Mahler.

International Certification Services Division dari Societe Generale de Surveilance (SGS) dari Jenewa, Swiss telah melakukan audit pengawasan terhadap sistem pengelolaan lingkungan PTFI.

Audit tersebut merupakan salah satu persyaratan dalam mempertahankan sertifikasi International Standadization Organization (ISO) 14001. Sistem pengelolaan lingkungan yang dilakukan PTFI juga mencakup program inspeksi lingkungan yang dilakukan secara internal sepanjang tahun.

Inspeksi tersebut dilakukan pada hampir 400 sarana, termasuk milik perusahaan kontraktor dan privatisasi, mulai dari tambang Grasberg hingga pelabuhan. Tujuannya untuk menilai kepatuhan seluruh sarana terhadap sistem pengelolaan lingkungan PTFI.

PTFI tetap melanjutkan kerjasama dengan berbagai pakar dari dalam dan luar negeri guna memastikan bahwa praktek pengelolaan tailing yang dilakukan perusahaan ini merupakan alternatif terbaik dengan mempertimbangkan kondisi geoteknis, topografi, iklim, siesmik dan curah hujan yang berlaku.(ant/nas)

September 23, 2008 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

Peace and Justice › Buat Tulisan Baru — WordPress

Ratusan Massa Long March Dalam Pengawalan Ketat Aparat Keamanan PDF Print E-mail
Ditulis Oleh: Feri/Papua Pos
Kamis, 18 September 2008

http://www.papuapos.com

DEMO : Ratusan massa Dewan Adat Papua ketika memasuki halaman gedung DPRP dalam aksi demo damai DAP, Rabu (17/9) kemarin menuntut penembakan Alm Opinus Tabuni pada perayaan Hari Penduduk Pribumi Internasional di lapangan Sinapuk-Wamena 9 Agustus lalu

Dewan Adat Papua (DAP) mengerahkan ratusan massa dalam aksi demo damai, Rabu (17/9) kemarin, ke DPR Papua menuntut atas tertembaknya Alm Opinus Tabuni ketika perayaan Hari Penduduk Pribumi Internasional di lapangan Sinapuk – Wamena, pada 9 Agustus 2008 lalu.

RATUSAN massa DAP long march menuju ke gedung DPRP di pusat Kota Jayapura yang berjarak sekitar 20 kilometer dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dari personel Polsekta Abepura dan Brimob Polda Papua dibawah dipimpin langsung Kapolresta Jayapura AKBP Roberth Djoenso SH dan Kapolres Jayapura AKBP Didi Yasmin.

Sebelumnya, massa berkumpul di Kantor DAP di kawasan Waena berjalan kaki menuju Abepura sekitar pukul 08.00 WIT. Di Pertigaan Kantor Pos Abepura massa dari Waena ini bertemu dengan massa dari arah Kamkey kemudian bersama-sama

melanjutkan long marck ke arah Kota Jayapura.

Setiba di Gedung DPRP massa orasi dihadapan Ketua DPRP John Ibo didampingi Wakil Ketua Komaruddin Watubun, Wakil Ketua Ev.Yop Kogoya, Wakil Ketua Paskalis Kossay meminta Polda Papua menuntaskan kasus kematian Opinus Tabuni di lapangan

Sinapuk, Wamena.

Setidaknya ada 5 pernyataan sikap DAP atas kasus yang terjadi saat perayaan

Hari Penduduk Pribumi International pada tanggal 9 Oktober 2008 lalu. Pertama, insiden penembakan yang menewaskan Opinus Tabuni oleh peluru aparat keamanan Indonesia adalah kejahatan kemanusiaan yang telah menginjak-injak harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang mulia.

Hak hidup adalah hak sangat mendasar yang merupakan pemberian Tuhan yang maha agung kepada semua manusia, hak ini tidak dapat dicabut dengan alasan apapun, oleh siapapun termasuk oleh negara sekalipun.

Kedua, penancapan bendera merah putih, PBB, SOS dan bintang fajar, bukanlah alasan untuk melakukan pembunuhan terhadap masyarakat adat Papua. Penancapan bendera adalah satu bentuk ekspresi protes terhadap berbagai ketidakadilan, marginalisasi, kemiskinan struktural yang terus dirasakan oleh masyarakat adat Papua selama berintegrasi dengan NKRI.

Ketiga, peristiwa tewasnya Opinus Tabuni bukan merupakan persoalan adat, tindakan pembunuhan ini adalah kemanusiaan yang terkait dengan persoalan politik. Sebab itu, untuk menyelesaikannya harus melalui mekanisme politik, serta juga lewat pertanggungjawaban hukum dan moral oleh NKRI.

Keempat, insiden penembakan yang menewaskan Opinus Tabuni harus menjadi tragedi yang terakhir. DAP tidak ingin jika tindakan seperti ini terulang kembali bagi masyarakat adat Papua yang lain dimasa akan datang.

Kelima, kasus penembakan di lapangan Sinapuk Wamena, adalah masalah kemanusiaan-masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia, karena itu bukan hanya menjadi masalah orang Baliem saja. Ini adalah masalah seluruh rakyat Papua, juga adalah masalah Indonesia.

Selain menyampaikan lima butir pernyataan sikap DAP atas tragedi di Wamena itu, isi pernyataannya sikap DAP juga antara lain meminta Polda Papua untuk menghentikan proses hukum terhadap pimpinan DAP dan masyarakat adat secara umum, karena proses tersebut sangat bertentangan dengan demokrasi yang sedang disuarakan oleh pemerintah Indonesia.

DAP juga menuntut Gubernur Provinsi Papua agar memfasilitasi delegasi Papua yang akan menghadap Presiden RI, Kapolri, Ketua MPR-RI, Ketua DPR-RI, Ketua DPD RI, Komnas HAM dan pihak terkait lainnya di Jakarta.

Kepada DPRP, DAP juga menuntut segera menyurat Gubernur Papua untuk memfasilitasi delegasi Papua yang akan menghadap presiden RI, Kapolri, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, Ketua DPD RI, Komnas HAM dan instansi terkait lainnya di Jakarta.

Sedangkan, kepada Majelis Rakyat Papua, DAP juga menuntut agar segera mengadakan rapat umum dengar pendapat dengan komponen rakyat Papua pada Oktober 2008 mendatang.

DAP juga menuntut kepada PBB agar memberikan perhatian dan tanggung jawab PBB terhadap insiden penembakan Opinus Tabuni karena insiden itu terjadi saat masyarakat adat Papua sedang merayakan hari Internasional Bangsa Pribumi se-Dunia, dimana perayaan ini ditetapkan oleh PBB pada tahun 1994 melalui sidang majelis umum PBB.

Penyataan sikap DAP yang dibacakan Sekretaris I DAP M Fadel Muhammad, kemudian pernyataan tersebut diserahkan Ketua DAP Forkorus Yoboisembut kepada Ketua DPRP John Ibo yang didampingi oleh ketiga wakil ketuanya.(feri)

Peace and Justice › Buat Tulisan Baru — WordPress

September 21, 2008 Posted by | Berita | Tinggalkan komentar

Bukan Mata-Mata Australia

banner
Home
PDF Print E-mail
Jumat, 19 September 2008
JAKARTA (PAPOS) -Pemerintah RI dan Australia sepakat bahwa keberadaan lima warga Australia yang masuk ke wilayah Papua tanpa dokumen resmi, tidak bersifat politik apalagi menyangkut kegiatan intelijen. “Mereka bukan mencari kesempatan. Hanya ingin mengembangkan wisata di Papua,” ungkap Menhan Juwono Sudarsono usai menerima Menhan Australia Joel Fitzgoibbon di Jakarta, Kamis (18/9).

Menhan menekankan, insiden tersebut murni penerbangan yang tidak sah karena kelima WN Australia itu terburu-buru, tidak ada persengkolan untuk masuk wilayah Indonesia untuk kegiatan mata-mata.

“Saat ini masalah tersebut sudah ditangani oleh pihak imigrasi dan Deplu dengan baik,” tambah Juwono.

Sementara Fitzgoibbon mengatakan, tidak ada keinginan apapun untuk mengusik wilayah Indonesia. “Yang mereka lalukan murni ingin menjajaki tempat wisata, hanya ingin mengeksplore,” katanya.

Pihaknya menambahkan, akan mengusut tuntas insiden tersebut. Menhan kedua negara sepakat insiden-insiden kecil semacam itu tidak akan mengganggu kerja sama militer dan pertahanan kedua pihak.

Kelima warga negara Australia itu terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki. Mereka mendarat di Bandara Mopah, Merauke, Jumat (12/9) lalu. Dua di antara WN Australia tersebut adalah pilot bernama William Henry Scott Bloxam dan Vera Scott Bloxam. Sedangkan tiga lainnya adalah penumpang, yakni Hubert Hofer, Karen Burke and Keith Mortimer.

Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia membenarkan lima warga negaranya ditahan di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, karena memasuki wilayah Indonesia tanpa dilengkapi berbagai dokumen perjalanan yang benar.

Australian Broadcasting Corporation (ABC), Minggu, melaporkan, kelima warga Australia, termasuk dua orang perempuan, itu tiba di Merauke dengan pesawat kecil Jumat pagi (12/9).

DFAT seperti dikutip ABC menyebutkan penahanan kelima warga Australia itu disebabkan mereka tidak mengantongi izin terbang, keamanan maupun izin imigrasi.

Mereka masih berada dalam pengawasan pihak berwenang Indonesia di sebuah hotel sembari menunggu persetujuan izin-izin yang diperlukan.

Sementara seperti sudah diberitakan sebelumnya, kelima warga negara Australia yang masuk ke Merauke dengan pesawat kecil jenis V-68 itu tidak memiliki visa untuk masuk wilayah Indonesia.

Dan Lanud Merauke Letkol (P) M Somin mengatakan, pihaknya hanya menangani kasus pesawat yang juga masuk tanpa dilengkapi persyaratan. Menurut dia, pesawat dengan kode penerbangan VH-PFP yang terbang dari Horn, Australia yang berjarak sekitar satu jam penerbangan itu tidak dilengkapi “flight approval” dan “security clearence”.(

September 21, 2008 Posted by | Berita | | Tinggalkan komentar

MANUSIA & KEINGINAN

Manusia ingin jadi besar dan ternyata ia kecil

Ingin bahagia dan ternyata menderita

Ingin sempurna dan ternyata ia penuh kelemahan

Ingin dicintai dan dihargai orang lain dan ternyata kesalahan-kesalahannya menyebabkan orang lain membenci dan menjahuinya

Rasa malu yang merundung manusia menimbulkan dalam dirinya hasrat yang paling melanggar rasa keadilan dan paling jahat yang dapat dibayangkan, karena ia mengidap rasa benci yang sangat dalam terhadap kebenaran yang menyalahkan dia dan meyakinkan dia akan kesalahan-kesalahannya.

Pascal, Pensees

September 21, 2008 Posted by | Puisi | Tinggalkan komentar

MANUSIA & CINTA

Awal dari cinta adalah

membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri,

Jika tidak maka kita hanya akan mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia…

September 21, 2008 Posted by | Puisi | | Tinggalkan komentar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.